Taqarrub Ilallah_ dengan Harta

*_Taqarrub Ilallah_ dengan Harta*
_K.H. Sunardi Sahuri_ *)

Saya akan mencoba mencermati dan mengamati figur-figur yang melakukan pendekatan diri kepada Allah dengan apa yang dimilikinya. Mungkin, apa yang ymereka lakukan sulit diterima oleh akal kebanyakan orang. Saya akan mencoba mencermati Mbah Ismail (mantan Ketua PDHI DIY, pemilik usaha batik Terang Bulan), Pak AR Fachruddin (mantan Ketua PP Muhammadiyah), dan Pak Matori Alhuda (Bantul). Dalam soal pendekatan diri kepada Allah yang terkait dengan harta beliau-beliau ini sangat-sangat menarik.



Dalam pengamatan saya, _di setiap pengajian Pak AR selalu menghabiskan uang yang dibawa._ Saya tidak tahu itu uang siapa, tetapi selalu begitu, dan yang dihabiskan itu tidak pernah sedikit. Saya sangat terharu, mungkin Pak AR Fachruddin adalah satu-satunya Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sampai saat terakhir beliau, sebelum meninggal, belum punya rumah pribadi. Beliau memang pernah ngendiko (mengatakan) bahwa beliau sudah pernah membeli rumah di sebuah perumahan tetapi diapusi (ditipu). Sejak saat itu Pak AR tidak pernah lagi berfikir tentang masalah rumah ini. Mungkin kita tidak pernah membayangkan kalau Pak AR itu tidak punya rumah pribadi.

Yang kemudian juga saya ketahui, dalam setiap pergi untuk ceramah pengajian, misalnya ke Padang, Medan, Makassar, dan sebagainya, uang yang diterima Pak AR dari ceramah pengajian-pengajian itu semuanya beliau diserahkan ke kantor PP Muhammadiyah. Dengan bahasa yang sederhana beliau mengatakan bahwa yang berangkat ke sana itu bukan AR Fachruddin pribadi, tetapi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Suatu ketika saya pernah dipanggil oleh Mbah Ismail dalam sebuah majelis tasyakuran Walikota. Secara berbisik beliau mengatakan kepada saya, minta tolong dibuatkan sebuah masjid. Uang yang ada kira-kira 120 juta rupiah. Begitulah cara Mbah Ismail memanfaatkan harta yang diperolehnya. Oleh karena itu, melihat Mbah Ismail yang demikian ini, maka kepada Mbah Ismail ini saya tidak pernah meminta, sebab tidak usah diminta pun Mbah Ismail pasti sudah akan memberi dengan sendirinya.

Saya kira, cara-cara Pak AR Fachruddin dan Mbah Ismail dalam memperlakukan harta, semua itu adalah _kegiatan dalam rangka pendekatan diri kepada Allah._

Melihat kehidupan Pak AR Fachruddin, termasuk Bu AR, masya Allah, sungguh qonaah sekali. Dengan apa yang diterimanya dari kantor Depag sebagai pensiunan kepala kantor penerangan, yang tidak seberapa itu, dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Cukup tidak cukup, dicukupkan. Sementara pendapatan beliau yang lain dikembangkan untuk kepentingan ibadah.

Tentang Pak Matori Alhuda, saya menyaksikan, ternyata _ada dukungan yang sangat kuat dari Bu Matori._ Dukungan itu sampai hari ini masih nampak. Bu Matori yang berdagang di pasar Bantul itu memberikan dukungan yang sangat kuat kepada suaminya untuk senantiasa bershadaqah dan memimpin ummat, tanpa membebani kepada ummat.

Tentang Mbah Ismail, jangan dibayangkan bahwa Mbah Ismail adalah seorang dermawan yang memberikan hartanya tanpa pertimbangan. Memang setiap surat mohon bantuan yang masuk kepada beliau mesti diberi, tidak pernah ada yang ditolak. Kalau bukan orang yang terpercaya akan diberinya dalam jumlah yang wajar untuk kepentingan sebuah kegiatan yang bermanfaat. Tapi kalau terpercaya, sampai ratusan juta beliau serahkan. Sebagai contoh adalah yang beliau berikan untuk pembangunan STM Muhammadiyah yang diberikan kepada Pak Ghofari Latief (Kepala STM Muhammadiyah, saat itu).

Saya baru saja memperoleh keterangan dari Parakan, bahwa Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) Muhammadiyah di sana mendapatkan tanah seluas 1000 meter persegi. Waktu itu dibayar oleh Mbah Ismail secara cash, kontan sebesar 60 juta rupiah, karena harga per meternya 60 ribu rupiah.

Ternyata, beliau selalu memberikan shadaqahnya dalam jumlah yang sangat besar untuk sesuatu yang manfaatnya jelas. Saya tidak pernah membayangkan bahwa ternyata beliau lebih berpikir intensif daripada produktifitas kita. Dalam pikiran kita, anak-anak kita rasanya lebih bangga kalau sekolah di SMU. Tetapi beliau punya prediksi lain bahwa yang akan lebih memberi manfaat kepada ummat saat ini justru adalah pendidikan ketrampilan, oleh karena itu yang beliau kerjakan justru adalah mengembangkan Sekolah Kejuruan (STM Muhammadiyah).

Jadi, dalam hal taqarrub kepada Allah yang terkait dengan kepemilikan harta benda ini disyaratkan _adanya harta itu sendiri_ dan ada pula _bentuk-bentuk pendekatan yang dilakukan dengan harta itu kepada Allah_. Dari sekian banyak pencermatan yang saya lakukan, saya sebutkan contoh sentral figurnya ada pada tiga orang di atas. Pertama karena qonaahnya, yaitu Pak AR. Kedua karena dukungan yang penuh dari istrinya, Pak Matori Alhuda. Dan ketiga, karena memang usahanya yang sukses dan cermat dalam bershadaqahnya, yaitu Mbah Ismail.

Maka, dari sini ada kesimpulan saya. _Pertama_, bahwa untuk mengadakan pendekatan diri kepada Allah berkait dengan soal harta itu _diperlukan untuk menjadi kaya terlebih dulu._ Ini yang agak sulit. Mengapa, karena kalau kita mulai bicara untuk menjadi kaya, biasanya orang mulai menghubungkan antara hidup ngirit (hemat) dengan kekayaan. Teori ekonomi kita akan selalu mengatakan bahwa orang akan bisa kaya kalau dia efektif dalam menangani dan memanage keuangannya. Tetapi dalam prakteknya yang seperti itu tidak pernah merupakan faktor yang mutlak. Banyak orang yang efektif dan disiplin dalam soal kehartaan ini tetapi ternyata menjadi kandas karena salah perhitungan.

_Kedua,_ syarat mutlak yang harus dimiliki oleh orang yang akan mengadakan pendekatan diri kepada Allah dengan harta adalah bahwa _ia harus suka bekerja_. Ini merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Jangan diharapkan orang yang menganggur bisa menempuh sebuah bentuk pendekatan diri kepada Allah dengan harta.

Bagi Muhammadiyah, menghadirkan dan mendidik anak-anaknya untuk menjadi seorang pekerja keras bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Apalagi kalau nuansa kehidupan kita sangat dekat dengan pola kehidupan birokrat. Sebab, rata-rata, tata kerja birokrasi pemerintahan adalah tata kerja yang tidak efisien. Walikota Kota Yogya yang baru, Pak Herry Zudianto, merasakan hal ini sebagai sebuah realitas yang sangat sulit diatasi.

Saya pikir, tidak layak kalau saya menyemangati Bapak-bapak dan Ibu-ibu untuk menjadi seorang pekerja keras dengan dalil-dalil, karena dalil-dalilnya panjenengan semua sudah hafal. Tetapi, bahwa kita secara personal perlu memberikan semangat kepada generasi penerus kita untuk menjadi seorang pekerja keras adalah suatu keharusan. Dan, maaf, jangan dikira bahwa Pak Nardi ini menjadi sukses adalah bagian dari sesuatu yang sempurna. Orang tidak bisa hadir begitu saja dalam kesempurnaan dan kesuksesan. Bapak-bapak dan Ibu-ibu tidak akan pernah mendapatkan saya menjadi seperti ini bila saya ini seorang pegawai. Sejak dari kantor Kotamadia sampai kantor Wilayah tidak akan pernah ditemukan nilai positif seorang Sunardi Sahuri sebagai pegawai yang baik. Mengapa, karena orang harus memahami bahwa tidak mungkin orang itu bisa sukses dalam kultur seorang pegawai. Ketika kita berbicara tentang kerja keras, jangan harap dengan bekerja keras itu akan menjadi sukses dalam segala posisi. _Jangan berharap orang menjadi dosen yang baik sekaligus seorang pengusaha yang baik, atau pegawai yang baik._ Tetapi, menjadi baik di salah satu sektor, insya Allah bisa, kalau ditekuni.

Inilah yang saya mau matur (sampaikan) kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu, pilihan mana yang tepat untuk generasi kita agar menghasilkan sikap hidup bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan, tetapi, dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Saya pakai kata _"tetapi”_ karena nanti akan banyak fakta bahwa mencari harta yang banyak itu bisa diperoleh dan dilakukan oleh banyak orang.

Ada kasus misalnya, orang Jogja itu jangan dibilang mereka miskin. Mereka _tidak miskin, tetapi bisa dikatakan bakhil._ Kalau ada seorang hartawan memakai mobil, yang biaya untuk sekali parkirnya 500 rupiah, dua kali parkir 1000 rupiah, dalam satu kepentingan yang sangat simpel misalnya pergi ke mal, ke pasar dan seterusnya, berarti ia harus menyiapkan uang untuk parkir antara 1500 sampai 2000 rupiah sehari. Belum tentu seorang hartawan itu menyiapkan 10 ribu rupiah seminggu untuk kepentingan agama. Salah-salah, hanya 500 rupiah dia keluarkan untuk berinfak di masjid tiap hari Jum’at. Itu bagi yang jum’atan, bagi yang tidak jum’atan tidak termasuk, malah jelas nggak keluar uangnya, wong tidak jum’atan.

Mengapa bisa terjadi yang demikian, sebab soal parkir yang 1500-2000 rupiah sehari itu _terkait langsung dengan kepentingan dirinya_, sementara _urusan agama (bc: sedekah) belum disadarinya sebagai sebuah pemikiran bahwa itu adalah untuk kepentingan dirinya juga._

Tetapi, sekali lagi yang pertama adalah _bekerja keras_. Dan, bekerja keras ini merupakan faktor yang sangat mutlak. Bersikap profesional, boleh, apalagi kalau sudah berkaitan dengan masalah ekonomi.

Ketika kita telah berusaha dengan kerja keras dan kemudian berhasil mendapatkan harta, ternyata hal ini akan bisa menjadi masalah. Sebab, _prototipe manusia adalah khuliqal insanu halu’a,_ _"manusia diciptakan dalam keadaan yang kikir."_ _*"Idza massahus-sarru jazu’a, kalau dia mendapatkan kekurangan, kesalahan, kekeliruan, maka dia akan mengeluh."*_ Tetapi kalau dia _mendapatkan kelebihan_ maka dia akan _kembali nampak kikir lagi._ Inilah barangkali yang menyebabkan kondisi umat Islam sekarang ini masih dalam kondisi seperti ini. Ummat Islam baru bisa menikmati shadaqah dari orang lain, tetapi _belum bisa menikmati bagaimana rasanya bershadaqah untuk orang lain._

Orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang mampu mengumpulkan dana untuk kepentingan agama mereka dan itu mengejutkan sekali. Di Kalasan, Rumah Sakit Islam sampai sekarang mendip-mendip keadaannya. Memang saat ini sudah berjalan dengan jumlah pasien sebulan sekitar 500 orang, baik pasien rawat inap dan rawat jalan, pasien ibu yang melahirkan bayi rata-rata 6 orang per bulan. Tetapi, Rumah Sakit Panti Waluyo di Pakem, milik orang Nasrani, yang juga baru, sudah mulai dengan layanan operasi yang menggunakan sinar laser, dan perawatannya pun sangat ideal. Sebenarnya alasannya sederhana, karena mereka dapat memperoleh dana yang mencukupi dari luar negeri, sementara untuk Rumah Sakit Islam, untuk mendapatkan dana dari umat sendiri saja sangat sulit.

Alhamdulillah, saya melihat di UMY dan UAD _ada potongan 2,5 persen dari gaji setiap dosen dan karyawan untuk zakat._ Alhamdulillah, minimun kewajiban sudah terpenuhi. _2, 5% itu baru minimum kewajiban._ Namun, inipun kadangkala dengan _grenengan (menggerutu)_, *“Wong ibadah koq dipaksa”*, begitu kira-kira grenengan-nya. Padahal, kalau kita mau lebih mencermati terhadap nash, Rasulullah dengan bahasa yang tajam sekali mengatakan: _*“Demi Allah ada tiga perkara, saya bersumpah atas kebenaran tiga perkara ini. Tidak akan pernah berkurang harta seorang hambaku hanya lantaran karena shadaqah”.*_

Kalau panjenengan melihat warung (toko mini market) saya laris, itu barangkali karena seperti kata Rasulullah itu tadi, disamping memang ada hubungan dengan soal profesionalisme, tapi saya cenderung yakin kepada ucapan Rasulullah ini sebagai penyebabnya.

Sekalipun begitu, saat ini saya sudah mulai khawatir tentang warung itu. Maksud saya, saat ini umur saya sudah 50 tahun. Menurut ukuran tenaga kerja produktif, waktu saya tinggal 6 tahun lagi. Tapi ternyata anak-anak saya belum ada yang mulai greget untuk mengikuti jejak orang tuanya ke arah ini.

Namun, lepas dari semua itu memang harus dicoba. Kami giring mereka menuju bagaimana kalau sudah memiliki harta itu orang lalu menyadari bahwa _memiliki harta itu tidak ada artinya apa-apa dalam kehidupan kalau tidak banyak-banyak digunakan untuk shadaqah._ Persis seperti apa yang diungkapkan oleh Rasulullah, “Hartamu itu tidak ada lain kecuali hanya tiga. Satu, yang kamu makan dan habis. Dua, yang kamu pakai dan sobek. Tiga, yang kamu shadaqahkan. Dan itulah hartamu”.

Teorinya, seharusnya untuk yang terakhir inilah yang paling besar. Dalam sehari, orang makan maksimum hanya tiga porsi, di bulan Ramadhan malah hanya dua porsi. Soal pakaian juga begitu, asal sudah sobek, sudah berhenti memakainya.

Dalam hal pakaian ini menarik sekali pola pikir yang dilakukan oleh Ustad Umar Budihargo. Memiliki pakaian itu cukup tiga stel, yang dipakai, yang dicuci dan yang disimpan. Jumlahnya hanya satu-satu, termasuk yang disimpan juga satu, bukan sepuluh. Untuk urusan ini saya belum bisa melaksanakan seperti Ustad Umar Budihargo itu, karena terlalu banyaknya orang yang memberi baju kepada saya, sampai saya tidak bisa melaksanakan prinsip ini.

Kalau sekarang kita bisa mengantarkan umat menuju kepada pola pikir bahwa _shadaqah itu seharusnya adalah pengeluaran yang terbesar, dibalik pengeluaran untuk makan dan pakaian,_ itu baru namanya layak. Jadi, masalahnya adalah bagaimana menjadikan orang itu bisa menikmati bahwa memberi orang lain itu lebih nikmat dari sekedar menikmati hidup dalam soal makan dan pakaian dan seterusnya.

Dalam hal ini sebenarnya saya hanya memotret saja. Pak AR Fachruddin saya potret dari segi qonaahnya. Mungkin saya masih sangat sulit disebut hidup yang qonaah seperti Pak AR itu. Sebab, pada diri saya ada mobil, ada tanah, dan sebagainya. Namun, di sisi itu saya bermaksud bahwa saya harus membuat keseimbangan di sisi yang lain.

Pernah, suatu saat istri saya mengusulkan bagaimana kalau kami mendirikan satu toko lagi. Lalu saya tanya, _“Sampeyan di akherat nanti modalnya apa kalau di dunia kemempengen (terlalu bersungguh-sungguh) seperti ini?”._ Akhirnya yang terjadi kemudian adalah renovasi sebuah masjid bisa diselesaikan.

Ketika hari ulang tahun perkawinan kami yang ke-25, istri saya mengusulkan untuk mengadakan acara kawin perak. Saya katakan bahwa tidak ada ajarannya yang seperti itu. Sekalipun dicari dalilnya sampai pusing tidak akan ketemu ajaran tentang peringatan kawin perak itu. Saya mengusulkan kepada istri saya untuk mengadakan pengajian tasyakuran saja sambil mengajak jamaah yang hadir untuk bershadaqah. Saya bertanya kepada isteri saya nanti dia akan mengawali memberi shadaqah berapa. Saya membayangkan istri saya hanya akan menyebut angka lima. Tapi dia bilang, karena ini ulang tahun perkawinan yang ke-25 dia menyebut angka 25 (juta). Akhirnya acara itu terjadi. Acara pengajian itu diisi ceramah oleh Rektor UMY, Prof. Ahmad Mursyidi. Di tempat acara orang-orang pada bingung mengapa Pak Nardi koq dandan (berpakaian rapi, tidak seperti biasanya). Alhamdulillah, akhirnya dalam acara pengajian itu terkumpul dana sebanyak 69 juta rupiah, dan jadilah sebuah masjid di Kricak.

Dalam hal ini kita mencoba memberikan sebuah tatanan, bahwa nikmatnya harta bukan pada sekedar menggunakannya, misalnya, untuk membeli mobil dan sebagainya, tetapi _nikmatnya harta adalah justru ketika digunakan untuk shadaqah_. Ini sungguh merupakan kesulitan yang sangat dahsyat, bagaimana mengantarkan kepada pola seperti itu, apalagi selalu ada letupan-letupan kecil yang menunjuk kepada kemewahan. Misalnya, anak saya sudah saya belikan sepeda motor baru. Ketika ada yang lebih baru lagi dia ngrasani kalau yang lebih baru itu lebih bagus. Menanggapi yang demikian, sebenarnya bisa saja saya membelikan yang lebih baru itu. Tetapi, yang menjadi masalah adalah bagaimana agar tidak membeli lagi. Ini sesuatu yang sulit. Maka untuk mengatasi hal ini, kepada anak saya bilang, sepeda motor tersebut dipakai sampai selesai sekolah. Kalau ingin yang lebih baru lagi belinya nanti kalau sudah bisa cari uang sendiri. Jadi, dalam hal ini adalah bagaimana menggiring generasi kepada satu pemahaman bahwa memiliki uang itu bukan hanya untuk keperluan seperti itu saja, tetapi _yang lebih utama, memiliki uang adalah untuk shadaqah_, sehingga hidup ini akan sangat ternikmati. Semua ini hanya bisa bernilai kalau _diniatkan sebagai pendekatan diri kepada Allah_. Kalau dalam hidup kita masih ada nuansa kikir, takabur, maka semua itu menjadi sangat tidak berarti sama sekali.

Saya pernah mendapat sebuah evaluasi, apakah yang dilakukan Pak Nardi seperti itu tidak riya'? Yang membantah pertanyaan ini bukan saya tetapi malah Pak AR, karena yang memulai cara itu dulu adalah Pak AR. Bantahannya sederhana sekali: _riya atau tidak itu yang sangat menguasai adalah yang bersangkutan._ Selain itu ada nash yang mengatakan, _“in tubdush-shadaqat…dst.”_, _"sekalipun kalian menampakkan shadaqah itu, maka tetap saja Allah memberi pahala shadaqah itu"_, dalam pengertian yang positif.

Kalau Pak AR saja mengawali menyumbang satu juta rupiah untuk pengembangan RSU PKU misalnya, maka _direktur-nya PKU yang gajinya besar_ tidak mungkin akan menyumbang sama dengan Pak AR. Akhirnya dari yang dimulai Pak AR sebesar satu juta rupiah itu bisa menjadi sebuah ruangan besar di RSU PKU. Ini kan sebenarnya pola-pola Pak AR yang sutradaranya adalah Ashadi Anwar. Dalam hal ini, Mas Drs. H. Muhammad Ashadi Anwar di Beringharjo dalam hal kreativitas mencari dana punya kredibilitas yang memadai.

Jadi, kembali saya akan mengatakan bahwa, saya hanya memotret tiga figur _dari sisi bagaimana beliau-beliau ini memanfaatkan harta untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa sebuah harapan lain_. Artinya, sangat tidak rasional kalau yang beliau-beliau berikan itu merupakan sesuatu yang berpamrih.

Apa sih artinya sebuah STM Muhammadiyah bagi Mbah Ismail. Beliau tidak pernah memerlukan tenaga kerja yang lulusan STM Muhammadiyah Yogyakarta. Yang beliau perlukan justru adalah tenaga kerja lulusan SMEA, karena bisnis batik beliau memerlukan karyawan yang lulusan SMEA sehingga sama sekali tidak ada pamrih untuk membangun STM ini. Apalagi jika berpikir pasar, Mbah Ismail ini adalah pengusaha yang tarafnya sudah internasional, karena kalau perlu batik itu diekspornya. Jadi, _tempat-tempat yang beliau sumbang itu bukan medan untuk marketing usaha beliau._

Sikap-sikap seperti itu baru bisa dikeluarkan kalau ada sifat _qonaah_ seperti Pak AR, menerima apa yang ada, dan kelebihannya digunakan untuk jalan Allah. Dan sikap-sikap seperti itu akan menarik orang banyak kalau hal itu _diteladankan,_ seperti yang dilakukan oleh Pak Matori Alhuda.

Silahkan Bapak-bapak dan Ibu-ibu mengadakan perenungan, mungkinkah kita menghantarkan generasi nanti menjadi yang seperti itu, seperti Pak AR Fachruddin qonaahnya, seperti Mbah Ismail kedermawanannya, dan seperti Pak Matori Alhuda keteladanan kedermawanan-nya. Kalau soal jumlah, memang jauh lebih besar Mbah Ismail dari Pak Matori, tetapi bahwa Pak Matori _meneladankan_, itu adalah hal yang sangat menarik. Dan akhirnya mereka memang bertemu, Mbah Ismail dan Pak Matori bertemu. Pak Matori membuat masjidnya, Mbah Ismail membuat rumah sakitnya. Dan jadi, ya di Parakan itu, _Balkesmas Muhammadiyah._

Terima kasih, saya kira begitu saja saya menyampaikan bahan perenungan berkaitan dengan _taqarrub kepada Allah_ ini.

_*) Ditranskrip oleh Arif BudimanCh. dari ceramah yang disampaikan dalam Pengajian Ramadhan MPKSDI PP Muhammadiyah, di Bimomartani, Kalasan. Sekitar thn 2001/2002*_

Komentar