GURU, AYAH DAN TELADAN KEIKHLASAN ITU TELAH BERPULANG
Jagad dakwah dan pendidikan Islam di Yogyakarta berduka sangat mendalam. KH Drs. Sunardi Syahuri, Ahad, 11 November 2018 pukul 16.38 telah berpulang ke haribaan Sang Maha Pencipta. Bagi kami di
Yayasan SPA Indonesia, beliau bukanlah tokoh biasa. Menjabat sebagai Ketua Badan Pembina Yayasan menggantikan Prof. Drs. Dochak Latief, beliau adalah sosok panutan, pelindung, penyemangat, bahkan juga ‘Ayah’ bagi kami semua. Tak pernah hilang dalam ingatan pribadi saya, beliaulah yang melamarkan calon istri saya ke Sempor Gombong (bersama Prof. Drs. Dochak Latief dan almarhum Prof. Drs. Sarwadi), dengan mobil beliau, bahkan semua ‘oleh-oleh’ lamaran beliau pula yang membelikan.. Beliau juga yang hadir menyampaikan khotbah nikah beberapa minggu kemudian. Begitu ringan beliau membantu penyelesaian berbagai kesulitan pribadi para aktivis di yayasan kami, layaknya ‘Ayah’ yang sangat menyayangi anak-anaknya…
Beliau memang sangat istimewa. Rapat pleno Yayasan tiap Senin malam sering menjadi saksi begitu gigih dan telatennya beliau mengawal perjuangan kami mengemban amanah dakwah ini. Sangat sering beliau menelepon saya, sebagai Ketua Yayasan, menanyakan perkembangan berbagai hal, dari pembangunan lokal-lokal kelas di 18 unit sekolah kami, pengurusan proses wakaf tanah, pengurusan izin operasional sekolah, pembebasan tanah untuk Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Mulia (perguruan tinggi pencetak Guru PAUD/TK dan SD/MI Islam), dsb. Bahkan, ketika di tanah suci pun beliau sering menelepon langsung, bertanya ini-itu sekaligus memberi petunjuk…
Ikhlas menjalankan amanah, memang selalu beliau pesankan kepada kami. Masih segar dalam ingatan saya, ketika melantik pengurus harian Yayasan, beliau berpesan, “Jangan jadikan amanah dakwah sebagai beban… Jadikan ini sebagai peluang berbuat yang terbaik untuk umat…” Kami semua tertunduk memejamkan mata mendengar pesan mendalam ini. Sering dalam banyak kesempatan berdua, beliau mengingatkan, “Dik, jangan lupa…, siapkan keluargamu untuk ikhlas dan istiqomah dalam mendukung perjuangan. Jangan malah jadi penghambat… Sampaikan kepada teman-teman yang lain…” Kembali saya tertunduk dan merenung… “Guru-guru di sekolah-sekolah Salsabila group, harus terus diingatkan, mereka harus menjadi guru pejuang dakwah… Yang tidak sanggup suruh minggir saja…”
“Dik…, kapan kita menengok kampus kita di Magetan?... Yang di Purworejo kita tengok, yuk….! Ini amanah umat lho…,” suatu kali terdengar suara kebapakan beliau di ujung telepon, pagi-pagi selepas shubuh. Atau, “Untuk pembelian tanah kampus SMP kita sudah ada uangnya? Belum kan? Pakai uang saya dulu….” Masya-Allah, padahal kami butuh uang ratusan juta rupiah. Di lain waktu, sangat sering beliau memberi stimulan untuk pembalian tanah, pembangunan gedung, penambahan sarpras sekolah, dari kantong beliau sendiri. Jumlahnya bisa 5, 10 sampai lebih dari 100 juta…! Semua ini membuat kami semua malu bila tidak bersungguh-sungguh berbuat dan berjuang untuk agama Allah ini. Beliau benar-benar teladan dan inspirator kami…
Beliau pula yang sering menanyakan kepastian rapat rutin yayasan di rumah beliau. “Dik, ini sudah 2 minggu kita tidak rapat lho…. Banyak yang harus kita bahas dan kita putuskan…” Tak bosan-bosan beliau mengingatkan. “Dik, perjuangan kita itu perjuangan berjamaah… Harus kompak, saling mendukung… Keputusan bersama harus dihormati, jangan suka jalan sendiri-sendiri… Sistem yang sudah diputuskan, meskipun belum sempurna, harus dijalankan dengan ikhlas. Kesempurnaannya diusahakan lewat perbaikan berkelanjutan. Tolong teman-teman yang cenderung susah diajak jalan bersama, diingatkan. Ini penyakit yang sering membuat semangat berjamaah hancur. Kalau sulit, biar saya yang mengingatkan…”
Masih terngiang-ngiang di telinga saya, ketika suatu siang beliau menelpon saya dengan suara terengah-engah, nafasnya terasa berat, “Dik, ini untuk medan dakwah kita di Karangmojo, sudah ada lembaga donor yang menyanggupi untuk membangunkan masjid dan 2 lokal kelas… Sampeyan satu-dua hari ini ke rumah ya… Kita rembug…” Ya, Allah, tidak tega saya mendengarnya. Kondisi kesehatan beliau memang terus menurun. Seharusnya beliau beristirahat total. Dua hari kemudian, ketika saya bersama teman-teman pengurus menghadap beliau, di pembaringan di kamar pribadi beliau, kami kembali menjadi saksi, betapa beliau memang seorang pejuang sejati. Semangat seorang mujahid yang tak pernah ada surutnya. Semangat, ya… semangat itu terasa terus menyala-nyala…. Hatta dalam keadaan sakit berat sekalipun…. Di balik keramahan, derai tawa dan candaannya, kami terus belajar kepada beliau tentang samangat berbalut keikhlasan yang menjadi nafas sepanjang hidup beliau… Kami akan terus mengenang keteladan sangat berharga ini…
Selamat jalan Pak Nardi… Selamat jalan guru dan panutan kami… Kami berjanji untuk terus bersemangat melanjutkan perjuangan… Seperti yang telah engkau contohkan kepada kami… Kami menjadi saksi akan semangat istiqomahmu… Kini, kembalilah ke haribaan Allah, dengan hati ridho dan diridhoi… Semoga husnul khotimah…. Amien, ya robbal ‘alamien…
RUA Zainal Fanani (Ketua Umum Yayasan SPA Indonesia)
Yogyakarta, 12 November 2018, menjelang pemakaman…
Jagad dakwah dan pendidikan Islam di Yogyakarta berduka sangat mendalam. KH Drs. Sunardi Syahuri, Ahad, 11 November 2018 pukul 16.38 telah berpulang ke haribaan Sang Maha Pencipta. Bagi kami di
Yayasan SPA Indonesia, beliau bukanlah tokoh biasa. Menjabat sebagai Ketua Badan Pembina Yayasan menggantikan Prof. Drs. Dochak Latief, beliau adalah sosok panutan, pelindung, penyemangat, bahkan juga ‘Ayah’ bagi kami semua. Tak pernah hilang dalam ingatan pribadi saya, beliaulah yang melamarkan calon istri saya ke Sempor Gombong (bersama Prof. Drs. Dochak Latief dan almarhum Prof. Drs. Sarwadi), dengan mobil beliau, bahkan semua ‘oleh-oleh’ lamaran beliau pula yang membelikan.. Beliau juga yang hadir menyampaikan khotbah nikah beberapa minggu kemudian. Begitu ringan beliau membantu penyelesaian berbagai kesulitan pribadi para aktivis di yayasan kami, layaknya ‘Ayah’ yang sangat menyayangi anak-anaknya…
Beliau memang sangat istimewa. Rapat pleno Yayasan tiap Senin malam sering menjadi saksi begitu gigih dan telatennya beliau mengawal perjuangan kami mengemban amanah dakwah ini. Sangat sering beliau menelepon saya, sebagai Ketua Yayasan, menanyakan perkembangan berbagai hal, dari pembangunan lokal-lokal kelas di 18 unit sekolah kami, pengurusan proses wakaf tanah, pengurusan izin operasional sekolah, pembebasan tanah untuk Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Mulia (perguruan tinggi pencetak Guru PAUD/TK dan SD/MI Islam), dsb. Bahkan, ketika di tanah suci pun beliau sering menelepon langsung, bertanya ini-itu sekaligus memberi petunjuk…
Ikhlas menjalankan amanah, memang selalu beliau pesankan kepada kami. Masih segar dalam ingatan saya, ketika melantik pengurus harian Yayasan, beliau berpesan, “Jangan jadikan amanah dakwah sebagai beban… Jadikan ini sebagai peluang berbuat yang terbaik untuk umat…” Kami semua tertunduk memejamkan mata mendengar pesan mendalam ini. Sering dalam banyak kesempatan berdua, beliau mengingatkan, “Dik, jangan lupa…, siapkan keluargamu untuk ikhlas dan istiqomah dalam mendukung perjuangan. Jangan malah jadi penghambat… Sampaikan kepada teman-teman yang lain…” Kembali saya tertunduk dan merenung… “Guru-guru di sekolah-sekolah Salsabila group, harus terus diingatkan, mereka harus menjadi guru pejuang dakwah… Yang tidak sanggup suruh minggir saja…”
“Dik…, kapan kita menengok kampus kita di Magetan?... Yang di Purworejo kita tengok, yuk….! Ini amanah umat lho…,” suatu kali terdengar suara kebapakan beliau di ujung telepon, pagi-pagi selepas shubuh. Atau, “Untuk pembelian tanah kampus SMP kita sudah ada uangnya? Belum kan? Pakai uang saya dulu….” Masya-Allah, padahal kami butuh uang ratusan juta rupiah. Di lain waktu, sangat sering beliau memberi stimulan untuk pembalian tanah, pembangunan gedung, penambahan sarpras sekolah, dari kantong beliau sendiri. Jumlahnya bisa 5, 10 sampai lebih dari 100 juta…! Semua ini membuat kami semua malu bila tidak bersungguh-sungguh berbuat dan berjuang untuk agama Allah ini. Beliau benar-benar teladan dan inspirator kami…
Beliau pula yang sering menanyakan kepastian rapat rutin yayasan di rumah beliau. “Dik, ini sudah 2 minggu kita tidak rapat lho…. Banyak yang harus kita bahas dan kita putuskan…” Tak bosan-bosan beliau mengingatkan. “Dik, perjuangan kita itu perjuangan berjamaah… Harus kompak, saling mendukung… Keputusan bersama harus dihormati, jangan suka jalan sendiri-sendiri… Sistem yang sudah diputuskan, meskipun belum sempurna, harus dijalankan dengan ikhlas. Kesempurnaannya diusahakan lewat perbaikan berkelanjutan. Tolong teman-teman yang cenderung susah diajak jalan bersama, diingatkan. Ini penyakit yang sering membuat semangat berjamaah hancur. Kalau sulit, biar saya yang mengingatkan…”
Masih terngiang-ngiang di telinga saya, ketika suatu siang beliau menelpon saya dengan suara terengah-engah, nafasnya terasa berat, “Dik, ini untuk medan dakwah kita di Karangmojo, sudah ada lembaga donor yang menyanggupi untuk membangunkan masjid dan 2 lokal kelas… Sampeyan satu-dua hari ini ke rumah ya… Kita rembug…” Ya, Allah, tidak tega saya mendengarnya. Kondisi kesehatan beliau memang terus menurun. Seharusnya beliau beristirahat total. Dua hari kemudian, ketika saya bersama teman-teman pengurus menghadap beliau, di pembaringan di kamar pribadi beliau, kami kembali menjadi saksi, betapa beliau memang seorang pejuang sejati. Semangat seorang mujahid yang tak pernah ada surutnya. Semangat, ya… semangat itu terasa terus menyala-nyala…. Hatta dalam keadaan sakit berat sekalipun…. Di balik keramahan, derai tawa dan candaannya, kami terus belajar kepada beliau tentang samangat berbalut keikhlasan yang menjadi nafas sepanjang hidup beliau… Kami akan terus mengenang keteladan sangat berharga ini…
Selamat jalan Pak Nardi… Selamat jalan guru dan panutan kami… Kami berjanji untuk terus bersemangat melanjutkan perjuangan… Seperti yang telah engkau contohkan kepada kami… Kami menjadi saksi akan semangat istiqomahmu… Kini, kembalilah ke haribaan Allah, dengan hati ridho dan diridhoi… Semoga husnul khotimah…. Amien, ya robbal ‘alamien…
RUA Zainal Fanani (Ketua Umum Yayasan SPA Indonesia)
Yogyakarta, 12 November 2018, menjelang pemakaman…
Komentar
Posting Komentar